Study, Anak yang Pilih-pilih Makanan Bisa Jadi karena Tekanan Orang Tua

Study, Anak yang Pilih-pilih Makanan Bisa Jadi karena Tekanan Orang Tua – Sebuah penelitian di AS menemukan bahwa menekan anak-anak untuk makan makanan yang tidak mereka sukai dan pilih-pilih makan berhubungan erat.

Sementara memaksa anak-anak memakan makanan tersebut tidak terkait dengan perilaku atau perubahan berat badan mereka, penggunaan paksaan dapat menyebabkan ketegangan waktu makan dan dapat merusak hubungan orangtua-anak, studi oleh University of Michigan (UM) menemukan.

Studi ini bertujuan untuk menjawab beberapa pertanyaan dalam dua skenario: Haruskah orangtua menekan anak-anak untuk makan, dan apa konsekuensi untuk berat badan anak-anak dan makanan yang sulit? Akankah si anak belajar dia harus makan semuanya, mengakibatkan kegemukan, atau akan belajar makan sayuran dan makanan sehat lainnya membantu dia menghindari kenaikan berat badan?

Tidak juga terjadi, studi ini menemukan.

“Kami menemukan bahwa lebih dari satu tahun kehidupan di masa balita, berat badan tetap stabil pada grafik pertumbuhan apakah mereka pemilih makanan atau tidak,” kata Julie Lumeng, seorang profesor ilmu gizi di UM School of Public Health dan profesor pediatri dan penyakit menular di UM Medical School. “Makanan anak-anak yang pilih-pilih juga tidak terlalu berubah. Itu tetap sama apakah orang tua menekan anak-anak mereka yang pemilih atau tidak.”

Tekanan juga menyebabkan penurunan dalam hal pilih-pilih makanan. Tidak ada hubungan antara menekan dan pilih-pilih makan dan semua hasil lainnya, penelitian menunjukkan.

Peneliti nafsu makan lebih suka istilah pemilih atau selektif atas istilah yang banyak pilih-pilih saat ini. Kami tidak menyebut orang dewasa selektif pilih-pilih, tetapi kami menggendong anak-anak ke standar yang berbeda meskipun rasa setidaknya agak tertanam dan di luar kendali seseorang untuk berubah pada usia berapa pun, kata Lumeng.

“Pengambilan di sini adalah bahwa menekan anak-anak untuk makan perlu dilakukan dengan hati-hati dan kami tidak memiliki banyak bukti bahwa itu sangat membantu,” kata Lumeng. “Sebagai orang tua, jika Anda menekan, Anda perlu memastikan bahwa Anda melakukannya dengan cara yang bagus untuk hubungan dengan anak Anda.”

Memilih makan hanya penting dalam arti bahwa itu mengganggu dan membuat frustrasi bagi orang tua, dan tidak nyaman, kata Lumeng. Ini jarang masalah kesehatan yang terkait dengan defisiensi nutrisi dan pertumbuhan yang buruk. Hanya saja tidak ada cacat perilaku yang serius yang seharusnya orang tua mengeluarkan banyak energi untuk dihilangkan.

“Berurusan dengan makan pemilih termasuk dalam kategori bagaimana Anda dapat melakukan hal-hal kecil yang mungkin membuat makanan lebih baik untuk semua orang, tetapi tidak memadamkan sesuatu yang mungkin menjadi bagian dari kepribadian anak Anda,” kata Lumeng.

Studi ini memiliki beberapa keterbatasan: Ada erosi tinggi dalam populasi penelitian, dan hasilnya mungkin tidak dapat digeneralisasi untuk populasi lain di luar balita berpenghasilan rendah.
Studi ini telah dipublikasikan di jurnal Appetite.

Sains Ungkap Jarak Waktu yang Ideal bagi Ibu untuk Hamil Lagi

Sains Ungkap Jarak Waktu yang Ideal bagi Ibu untuk Hamil Lagi – Mengatur jarak kehamilan antara anak pertama dan kedua sangat penting bagi ibu. Menurut studi terbaru yang terbit di JAMA Internal Medicine, jarak ideal antara melahirkan dengan kehamilan berikutnya adalah 18 bulan.

Dengan jarak yang tidak terlalu dekat, risiko kesehatan bagi ibu dan bayi pun dapat diminimalisir. Hal ini tidak hanya berlaku bagi perempuan yang berusia 35 tahun ke atas, tapi bagi semua perempuan.

Dalam melakukan penelitiannya, para ahli dari University of British Columbia (UBC) dan Harvard T.H. Chan School of Public Health, menganalisis hampir 150.000 catatan kesehatan ibu dan bayi di Kanada.

“Studi kami menemukan ada peningkatan risiko pada ibu dan bayi bila kehamilan berjarak dekat, termasuk wanita yang usianya 35 tahun ke atas,” kata pemimpin studi Laura Schummers dari pascadoktoral UBC.

“Temuan ini penting untuk wanita yang usianya lebih tua. Sebab, wanita yang berusia lebih tua cenderung mengambil pilihan untuk memiliki anak dengan jarak yang dekat,” imbuhnya seperti dilansir IFL Science, Senin (29/10/2018).  Jeda kehamilan yang dekat tidak hanya berisiko untuk perempuan yang usianya lebih dari 35 tahun. Risiko kesehatan juga mengancam bayi dan ibu yang berusia 20 sampai 34 tahun.

Laura dan timnya menemukan bahwa interval atau jarak kurang dari 18 bulan berkaitan dengan risiko kehamilan yang lebih tinggi. Ibu berusia lebih dari 35 tahun yang jarak kehamilan dan melahirkan hanya 6 bulan berisiko mengalami kematian sebesar 1,2 persen (12 kasus per 1.000 kehamilan) atau risiko kelahiran prematur sebesar 6 persen.

Dengan menunggu jeda kehamilan sampai 18 bulan, risiko itu bisa berkurang hampir setengahnya. Sementara perempuan berusia 20 sampai 34 tahun yang hamil enam bulan setelah melahirkan, memiliki risiko kelahiran prematur sebesar 8,5 persen dan mereka yang jeda kehamilannya lebih dari 18 bulan, risiko itu turun sampai 5 persen. Dari sini penulis menyimpulkan bahwa ada risiko kesehatan berbeda untuk kelompok usia berbeda.

Baca Juga Artikel : Lintasqq.com Agen Domino QQ – Bandar Judi Poker Online – Qiu Qiu Online 99 – Dewa Poker

Dengan studi ini, ahli berharap dapat membantu para ibu yang berusia lebih tua untuk merencanakan keluarga. Sementara risiko tinggi pada kelompok usia yang lebih muda kemungkinan mencerminkan kurangnya informasi saat mulai melakukan keluarga berencana.

“Jarak kehamilan pendek mungkin mencerminkan kehamilan yang tidak direncanakan, terutama di kalangan wanita muda,” kata Dr Sonia Hernandez-Diaz, profesor epidemiologi di Harvard T.H. Chan School of Public Health.

“Meningkatnya risiko bisa disebabkan oleh tubuh yang tidak diberi banyak waktu untuk pulih secara sempurna atau faktor yang terkait dengan kehamilan yang tidak direncanakan, seperti perawatan pranatal yang tidak memadai. Untuk itu, kami merekomendasikan untuk melakukan kontrasepsi pascapartum atau menggunakan kondom setiap kali berhubungan badan dengan suami,” tutupnya.

Kehebatan Ibu, Suaranya Lebih Ampuh Dibanding Alarm Kebakaran

Kehebatan Ibu, Suaranya Lebih Ampuh Dibanding Alarm Kebakaran – Salah satu yang sering dipusingkan para orangtua adalah menyiasati agar anak-anak tetap waspada di kala tidur, terutama jika ada api di rumah. Bagaimana tidak menjadi mimpi buruk, anak-anak di bawah usia 12 tahun sangat sulit dibangunkan bahkan kadang tidak mendengar suara alarm kebakaran.

Kini, para ahli dari Nationwide Children’s Hospital di Ohio, AS, telah menemukan cara sederhana yang efektif membangunkan anak-anak, terutama untuk mengantisipasi kala ada kebakaran. Caranya adalah mengganti suara alarm kebakaran dengan rekaman suara ibu. Cara ini terbukti tiga kali lebih ampuh dibanding suara alarm biasa.

Studi yang baru terbit di jurnal Pediatrics mengatakan bahwa anak-anak di bawah usia 12 tahun lebih sulit dibangunkan karena memiliki tidur lebih lama dan lebih dalam dari orang dewasa. ”

Alarm (dengan nada berdentang tinggi) sulit membangunkan anak-anak yang berusia di bawah 12 tahun,” kata rekan penulis studi Dr Gary Smith, dilansir The Guardian. Untuk membuktikan dugaan itu, tim membandingkan efek empat alarm kebakaran yang berbeda pada 176 anak berusia lima sampai 12 tahun. Anak-anak yang terlibat dalam studi tidak ada yang mengalami gangguan pendengaran atau sedang mengonsumsi obat tidur. Satu alarm merupakan alarm kebakaran bernada tinggi seperti yang biasa kita dengar dan mungkin dipasang di rumah.

Tiga lainnya dibuat dari suara ibu. Alarm rekaman suara ibu yang pertama memanggil nama anak mereka. Alarm suara kedua memberi perintah untuk segera bangun seperti, “Bangun! Lekas tinggalkan ruangan”. Alarm ketiga merupakan gabungan dari memanggil nama dan memberi perintah. Hasilnya, sekitar 93 persen atau 163 anak langsung bangun ketika mendengar suara ibu mereka. Sementara hanya 53 persen atau 93 anak yang bisa bangun karena bunyi alarm biasa.

Menariknya, anak-anak yang bangun karena mendengar suara ibu bisa langsung bergegas keluar kamar hanya dalam waktu 18 sampai 28 detik. Hal itu jauh berbeda dengan saat anak bangun karena suara alarm tradisional. Mereka memerlukan waktu sekitar 282 detik atau hampir lima menit untuk beranjak dari kasur.

Meski suara ibu efektif membangunkan, saat ini tim sedang menyelidiki apakah bila menggunakan alarm selain dari rekaman suara ibu juga memiliki efek yang sama, dan apakah suara berdasarkan jenis kelamin juga memengaruhi hal tersebut. “Jika kita bisa mengembangkan sesuatu yang efektif digunakan untuk membangunkan anak-anak, maka hal itu sangat kami harapkan,” kata Smith.

Baca Juga Artikel : ELANGBOLA Situs Agen Judi Betting Bola Online Piala Euro

Prof Niamh Nic Daéid, direktur Leverhulme Research Centre for Forensic Science di University of Dundee mengatakan, hasil riset ini memperkuat hasil riset sebelumnya. Riset tersebut mengungkap, suara manusia yang bernada rendah dan bergetar lebih ampuh untuk membangunkan anak-anak.

Tips Untuk Menjaga Keutuhan Rumah Tangga

Tips Untuk Menjaga Keutuhan Rumah Tangga – Angka perceraian kian meningkat setiap tahun, dan ironisnya hal ini terjadi di hampir seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia. Apa ada yang salah dengan sikap kita terhadap komitmen untuk menjaga keutuhan rumah tangga?
Kami merangkum beberapa tips umum yang perlu Anda ketahui untuk menjaga keutuhan rumah tangga, sebagai satu-satunya solusi mencegah terjadinya trauma pada buah hati yang diakibatkan oleh perceraian.

 

 

 

  1. Komunikasi merupakan kunci utama suksesnya sebuah pernikahan
    Pastikan Anda dan pasangan telah membentuk suatu komunikasi yang efektif dan adil bagi kedua belah pihak sebagai salah satu kunci dalam menjaga keutuhan rumah tangga. Komunikasi yang Anda terapkan bersama pasangan dapat menjadi pembelajaran untuk anak-anak tentang bagaimana cara berbicara dan mengutarakan isi hati mereka.
  2. Belajarlah untuk memberi dan menerima
    Ketika dua orang hidup bersama, kompromi adalah suatu hal yang tak bisa dihindari untuk menjaga keutuhan rumah tangga. Manusia bukanlah makhluk sempurna, jadi ia masih membutuhkan pertolongan dari manusia lainnya.
  3. Redam emosi
    Saya mengenal seseorang yang masih mengingat setiap detil pertengkaran orang tua saat ia masih duduk di sekolah dasar, dan sekarang usianya 30 tahun lebih. Anak-anak tidak memahami mengapa ayah dan ibu saling berteriak (dan berbaikan lagi, dan saling berteriak lagi), serta bersikap seolah mereka tidak ada. Peristiwa ini disimpan dalam memori otak, yang di kemudian hari juga akan mereka lakukan pada pasangan/ keluarganya.
    Utamakan pernikahan di atas segalanya. Bersedia atau kerelaan untuk berkorban demi menjaga keutuhan rumah tangga dengan menomorsatukan ‘sesuatu yang seharusnya’ daripada ‘sesuatu yang kuinginkan’ mungkin tidak mudah, terutama bagi Anda yang menikah di usia muda. Pengorbanan mungkin pahit di awal, namun akan indah pada waktunya.
  4. Jangan mengharap imbalan/pamrih
    Jangan mengharapkan balasan dari semua yang Anda lakukan, baik sebagai istri/suami maupun sebagai orang tua dari anak-anak Anda. Ada hal-hal di dunia ini yang tak bisa dipertimbangkan berdasarkan untung rugi, karena keberhasilan Anda dalam menjaga keutuhan rumah tangga adalah sesuatu yang tak bisa dibeli.
    Harapan mungkin baik untuk menjaga semangat hidup, namun berharap lebih dekat pada angan-angan yang belum tentu akan terjadi. Anda bisa saja tidak siap dengan kenyataan dan menyalahkan pasangan atas kondisi tersebut.
  5. Saling menghargai
    Menghargai pasangan dengan melayani dan memahami keinginannya tidak sama dengan merendahkan harga diri Anda. Seorang pasangan yang baik akan memutuskan untuk mengalah meski menjaga keutuhan rumah tangga kadang terasa tak mengenakkan. Ingatlah selalu bahwa Anda melakukannya demi anak-anak, dan demi masa depan yang lebih baik.

Sampai disini artikel yang kami berikan hari ini semoga dapat memberikan anda semua manfaat tentang Tips Untuk Menjaga Keutuhan Rumah Tangga, seperti yang kita ketahui tidak semua orang menginginkan perpisahan oleh karena itu harus pandai menjaga keutuhan rumah tangga.

Ketika Terpaksa Hidup Jauh Dengan Anak

Ketika Terpaksa Hidup Jauh Dengan Anak – Berjauhan dengan anak bukan berarti tak bisa dekat dengan sang buah hati. Kondisi ini dapat disiasati, bahkan anak pun bisa berprestasi. Tak semua orangtua bisa tinggal serumah dengan anak. Hal ini bisa terjadi karena orangtua harus bekerja di luar kota atau ke luar negeri. Alasan lain, bisa saja anak bersekolah di pesantren atau asrama atau juga alasan perceraian. “Siapa, sih, yang mau berjauhan dengan anak atau keluarga? Mungkin peluang di luar, seperti menjadi TKI lebih menjanjikan, sehingga mereka memilih bekerja di sana,” kata Sukma Rani Moerkardjono, S.Psi, M.si.,  Psikolog dari Ukrida.

Beri Penjelasan

Berpisah dengan anak bukan hal yang mudah dan memerlukan banyak pertimbangan. “Apalagi jika anaknya masih kecil, ia pasti membutuhkan sosok ibu.” Namun, bila kondisi memaksa hingga tak ada pilihan lain, apa mau dikata?

Maka, anaklah yang harus disiapkan pertama kali dan sebaik mungkin. “Jangan sampai anak merasa orangtua tidak sayang kepadanya,” ujar Sukma. Semula, anak pasti akan memberontak, marah, dan kecewa karena tidak tinggal serumah dan mempertanyakan kenapa orangtua harus bekerja di tempat yang jauh, misalnya.

Sukma pun menyarankan agar orangtua memberi pengertian bahwa mereka bekerja demi anak. “Selalu berikan penjelasan sambil tenangkan mereka hingga ada perasaan nyaman.” Lalu, cari orang yang bisa dipercaya dalam menitipkan anak. Sebut saja, orangtua, paman, tante, adik, atau kakak. “Pastikan mereka sayang kepada anak Anda, ada kesepakatan dua belah pihak tentang pola asuh, dan lakukan komunikasi lewat telepon.”

Komunikasi sangat penting untuk menjaga kedekatan orangtua-anak. “Anak mengalami proses tumbuh kembang tanpa orangtua. Jadi, jangan pernah bosan menelepon sebab ia akan merasa orangtuanya perhatian bila komunikasi dilakukan setiap hari.” Lakukanlah komunikasi via telepon, misalnya, yang disarankan dilakukan tiga kali dalam sehari. “Komunikasi pun harus ada interaksinya. Misalnya, pagi mengingatkan anak sekolah, siang menanyakan kabar pulang sekolah, lalu malam tanyakan kebutuhan belajarnya,” papar Sukma.

Nah, komunikasi tak hanya dilakukan dengan anak, tapi juga dengan orang yang dititipkan. “Jangan asal menitipkan anak dan memberi biaya hidup, tapi anak tidak dipantau. Apa pun yang terjadi dengan anak, orangtua harus tahu.” Jadi, tetap berikan perhatian meski nenek atau kakeknya sudah memberikan kasih sayang.

Tepati Janji

Jika anak sakit, usahakan pulang dan berikan motivasi kepada anak. “Dahulukan anak yang sakit daripada pekerjaan. Kalau bisa, ada jadwal pulang tiap akhir minggu, tapi ini tentu saja tergantung jaraknya,” tutur Sukma yang juga berprofesi sebagai dosen. Saat anak bertanya mengapa orangtuanya tak bisa sering pulang, Sukma menyarankan, “Jelaskan soal jarak jauh dan biaya mahal, sehingga orangtua tidak bisa terlalu sering pulang. Selain itu, meminta izin dari kantor juga tak mudah apalagi kalau atasan tidak punya empati?” urai Sukma.

Bila Anda tak mempunyai waktu menengok anak, anaklah yang dibawa menjenguk orangtuanya. “Pokoknya, harus ada pertemuan anak dan orangtua. Dan, harus ditepati jika berjanji pulang, kecuali ada hal penting yang tidak bisa ditinggal,” tegas Sukma.

Lebih Dewasa

Bila komunikasi tak pernah dibina, anak merasa ditinggalkan orangtua dan lebih nyaman bersama nenek, teman, atau orang lain. Padahal, dampaknya di masa depan bisa berbahaya. Misalnya, anak membenci orangtua, menjadi pribadi introvert, atau memberontak. “Saat dewasa, anak akan malas belajar, tidak semangat, tidak termotivasi, tidak berprestasi, dan mencari perhatian dengan melakukan hal-hal negatif.” Pola asuh dari orang yang dipercayai dalam menitipkan anak juga bisa berdampak negatif. “Itulah pentingnya kesepakatan dalam pola asuh sejak awal. Jangan sampai Anda tegas, tapi orangtua Anda permisif dan memberikan apa yang diminta anak agar mereka senang.

Hal kecil seperti pilihan makanan, misalnya. Anda mewanti-wanti jangan sampai anak diberi makanan instan. “Ternyata, orangtua Anda malah memberikan makanan tersebut.” Begitu Anda melarang anak mengonsumsi makanan itu, anak pasti marah dan menganggap Anda jahat. “Anak pun akan membandingkan Anda dengan neneknya yang tidak pernah melarang mengonsumsi makanan itu,” papar Sukma.

Bila hal ini dibiarkan, jarak dengan anak makin menganga. “Anak tidak mendengarkan Anda dan lebih memilih mengikuti omongan neneknya.” Maka, begitu kendala semacam ini terjadi, berikan penjelasan dengan contoh konkret. Misalnya, makan sembarangan akan membuat tubuh mudah sakit. Pahami pula bahwa orangtua Anda tak bisa sesempurna yang Anda harapkan dalam mengasuh buah hati. “Jadi, berdiskusilah dan beri tahu realita saat ini karena orangtua Anda belum tentu paham, kan?”

BACA JUGA ARTIKEL : BALAKQQ.COM SITUS AGEN JUDI POKER DOMINO QQ ONLINE

Akan tetapi, hidup berjauhan dengan orangtua tak selalu muram. Anak justru bisa lebih mendapatkan sisi positif dari kondisi ini. “Anak bisa dewasa sebelum waktunya karena anak bisa lebih menerima kenyataan dan anak mengerti orangtua bekerja demi dirinya.” Anak bahkan bisa berprestasi meski orangtua membimbing dan memberi motivasi meski hanya lewat telepon. Oleh karena itu, sering-seringlah memotivasi anak meski terpisah jarak. “Contohnya, “Kamu harus tetap semangat belajar meski Bunda jauh karena anak yang berprestasi adalah hadiah terindah bagi orangtua. Bunda pun akan tambah semangat bekerja kalau kamu berprestasi,” urai Sukma.

Kasih Ayah Sepanjang Masa

Kasih Ibu kepada beta tak terhingga sepanjang massa
Hanya memberi tak harap kembali
Bagai sang surya menyinari dunia……

Di atas merupakan sebuah lagu yang bertemakan kasih ibu sepanjang masa. Memang benar pastinya, tapi bagaimana dengan ayah? Apakah kasihnya tidak sepanjang masa? Atau kasih seorang ayah ada batasnya? Ayah maupun ibu memiliki kasih tak terhingga. Tidak ada yang melebihi kasih sayang mereka kepada anak – anaknya. Kebahagian anak-anaknya adalah nomer satu dalam hidupnya. Mereka akan merasa sedih apabila anak-anaknya tidak bahagia.

Tapi entah kenapa masih banyak anak yang tidak bisa menghargai kedua orang tuanya. Mereka hanya meminta lebih tanpa memikirkan perasaan kedua orangtuanya. Kadang kita lupa betapa pentingnya peran orang tua dalam hidup kita. Banyak pengorbanan – pengorbanan yang telah meraka lakukan kepada kita sebagai anak. Suka maupun duka mereka hadapi untuk menjaga agar kita tetap terjaga dan merasa senang.

Malam jadi pagi, pagi menjadi malam. Bahkan kaki jadi kepala, kepala menjadi kaki. Tengah malam pun ia berangkat setiap hari untuk mencari rezeki untuk keluarganya. Terbayang, betapa kuatnya bagaikan super hero. Bukan super hero yang menuntaskan kejahatan, tapi ia menuntaskan permasalahan yang ada di keluarga kecil kami. Tak pernah ku lihat ucapan kata yang terlintas di mulutnya kalau ia lelah. Tapi aku tahu, terlihat jelas dari raut wajahnya dan mata yang sayu karena mengantuk. Tetapi ia selalu menutupi dengan senyuman. Agar ia tidak ingin dilihat anak-anaknya kalau ia sedang lelah.

ELANGBOLA Situs Agen Judi Betting Bola Online Piala Euro

Bukan hanya sebagai imam dan kepala rumah tangga, tapi ayah merupakan sosok inspirasi bagi anak-anaknya dan menjadi panutan. Ia bisa mengubah dirinya menjadi siapapun. Baik itu guru, teman, ibu atau bahkan bisa menjadi rival. Banyak peran yang ia gunakan untuk mendidik anak-anaknya. Aku masih ingat ketika itu, sehabis pulang kerja aku ingin minta diajarkan berenang olehnya. Padahal aku tahu ia baru saja pulang dari kerja dan terlihat lelah sekali. Tetapi dengan kasih sayangnya yang besar, untuk membahagiakan anaknya, ia rela membagi waktu istirahatnya demi mengajarkan anaknya untuk belajar berenang.

Kasih sayang untuk anaknya tidak akan pernah pudar. Kerja keras untuk keluarganya tidak akan ada yang menandinginya. Rasa lelahnya tidak pernah muncul untuk keluarganya. Saat menatapnya, kini raut wajahnya sudah tidak kencang seperti dulu. Rambut putih mulai muncul di bagian kepalanya. Sudah hampir beranjak kepala lima umurnya. Sudah saatnya ia tidak terlalu keras dalam bekerja. Yang bisa aku lakukan sekarang ialah berdoa. Berdoa kepada Tuhan di setiap sholatku dan terselip nama ayah dan ibu agar mereka selalu sehat dan panjang umur. Kelak melihat anak-anak didikannya menjadi orang yang berguna dan membahagiakan mereka.

Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu

Surga Berada Di Telapak Kaki Ibu – Istilah dari kata ini mungkin sudah sejak dahulu kita pernah mendengar nya dan saya rasa itu benar karena kasih seorang ibu itu tidak lah pernah lepas dari kita,di mulai dari sejak kita kecil dan bahkan sampai menikah sekalipun ibu akan tetap bisa memarahi kita dan memberi nasehat terhadap kita selalu selagi dia bisa,perlu kita ketahui juga seorang ibu akan tetap menganggap anak nya sebagai anak kecil yang harus di nasehati dan di beritahukan apakah yang harus dia lakukan,untuk itu kita sebagai anak jangan merasa sudah paling bisa atau apapun,karena ibu hanya semata ingin memberikan yang terbaik buat kita sebagai anak nya,jangan pernah mengecewakan beliau jagalah dia sebagaimana dia merawat anda dari kecil sampai anda sekarang yang tidak pernah mengeluh semua permasalahan dia terhadap kita.

images

Berbuat kebaikan yang banyak dan berbagi kebersamaan bersama beliau karena dia tidak pernah meminta apapun dari anda walaupun anda sudah sukses tetapi beliau yang menginginkan ketika dia kelak tua ada yang selalu bersama mendampingi dia,begitu pula juga apa yang kita pikirkan ketika kita sudah tua nanti pasti nya kita juga ingin di perlakukan seperti begitu dan jangan lupa karma terhadap orang ibu itu tetap berjalan,jangan coba sekali – kali anda kurang ajar terhadap ibu anda,sekali pun dia memaafkan agen domino qq online anda tetapi di akhirat nanti anda akan tetap menjalankan hukuman apa yang telah anda buat terhadap seorang ibu yang melahirkan dan merawat anda sampai tua.

Ada pula istilah ibu mempunyai 6 orang anak dan hanya seorang ibu yang sangat mulia itu bisa merawat semua anak nya itu tersebut sampai dia dewasa dan bisa mencari nafkah sendiri dan tetapi bisa saja dari 6 anak tersebut itu semua tidak bisa merawat 1 orang ibu mereka yang sudah mulai tua itu dengan berbagai alasan yang di berikan,tetapi sang ibu juga tidak menuntut anda merawatnya karena semakin tua semakin tidak ada kepercayaan diri dari mereka jadi itu yang harus anda ketahui,jangan sampai beliau sudah tiada baru anda menangis yang tidak gunanya,karena sewaktu masih ada anda tidak menganggap seorang ibu anda tidak ada dan membiarkan dia kesepian.

images-1

Seorang ibu yang mulia bahkan dia dengan tulus menjaga cucu nya yang merupakan anak anda itu sendiri,anda sudah mempunyai ibu yang sangat mulia jangan menyia – yia kannya,apa yang beliau inginkan lakukan saja dan buat lah dia bahagia di hari tua nya bersama anda,memang tidak bisa di pungkiri semua orang yang kita sayang pasti akan meninggalkan kita suatu saat tanpa kita ketahui itu kapan,untuk itu gunakan setiap hari untuk membahagiakan orang yang kita sayangi,saran dari saya cuma hargailah orang tua selagi kita bisa berbakti terhadap mereka karena kebaikan itu sangatlah mulia,berikan waktu sedikit mungkin untuk selalu bersama mereka,toh itu juga ibu anda sendiri.

LAPAKQQ.ONLINE AGEN DOMINO 99, DOMINO QIU QIU, BANDAR Q ONLINE, POKER ONLINE, DOMINO ONLINE

Kesuksesan yang anda dapatkan juga tidak luput dari doa seorang ibu yang selalu mendoakan kita di rumah dan keselamatan kita di jalan,apa yang kita lakukan doa mereka selalu berserta kita,jadi jangan sombong atas apa yang kita raih sekarang ini karena kesuksesan tidak akan abadi dan kebahagian yang di berikan orang tua akan abadi di hati kita.

SALAM SEMUA DAN LOVE U MOTHER